Prabowo Dorong Produksi Tebu dan Bioetanol Dalam Negeri

Pemerintah berencana meningkatkan produksi tebu dan bioetanol dalam negeri melalui percepatan peremajaan tanaman serta penguatan produktivitas pertanian. Kebijakan ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis impor.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana tersebut dalam kegiatan panen raya di Malang, Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026.

Peremajaan tanaman tebu dipercepat

Pemerintah menilai produktivitas tebu dapat ditingkatkan melalui penggunaan bibit yang lebih baik, peremajaan tanaman, peningkatan mekanisasi, serta perbaikan pengelolaan lahan.

Peremajaan diperlukan karena tanaman yang sudah digunakan selama beberapa siklus dapat mengalami penurunan produktivitas. Namun, pelaksanaannya harus disertai kesiapan bibit, pembiayaan, pendampingan petani, dan kepastian pembelian hasil panen.

Tebu tidak hanya untuk produksi gula

Selain menghasilkan gula, tebu dapat diolah menjadi molase dan bioetanol. Bahan bakar nabati tersebut berpotensi dicampurkan ke bensin untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Pengembangan bioetanol menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi Indonesia. Sebelumnya, pemerintah juga meningkatkan penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit melalui program B50.

Dampak terhadap petani

Peningkatan produksi dapat membuka peluang bagi petani apabila harga pembelian, biaya produksi, akses pupuk, dan ketersediaan sarana panen dikelola secara seimbang.

Program tidak cukup hanya meningkatkan luas tanaman. Produktivitas per hektare, rendemen tebu, efisiensi pabrik, distribusi hasil panen, dan transparansi harga juga menentukan pendapatan petani.

Tantangan pengembangan bioetanol

Penggunaan tebu sebagai sumber energi perlu diseimbangkan dengan kebutuhan gula konsumsi. Pemerintah harus memastikan peningkatan produksi bioetanol tidak mengurangi pasokan pangan atau menyebabkan kenaikan harga gula.

Investasi untuk fasilitas pengolahan, distribusi bahan bakar, pengujian kendaraan, serta standar mutu juga diperlukan sebelum bioetanol dapat digunakan dalam skala lebih luas.

Realisasi perlu diukur secara terbuka

Keberhasilan kebijakan dapat dinilai melalui peningkatan produktivitas tebu, produksi gula, kapasitas bioetanol, kesejahteraan petani, dan berkurangnya kebutuhan impor.

Target pemerintah masih memerlukan rencana pelaksanaan, anggaran, jadwal, serta data realisasi yang dapat diakses publik.

 

TANGGAPAN PEMBACA

Ruang Tanggapan

Sampaikan pendapat dengan santun. Anda dapat menggunakan nama atau memilih Anonim.